MENGAPA TIDAK MEMILIH IDEOLOGI ISLAM ?
Masih lekat dalam ingatan kita betapa anarkis aksi masa Front Pembela Islam (FPI) 1 Juni 2008 yang memporak-porandakan apel Peringatan Hari Kelahiran Pancasila yang dilakukan oleh Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Tercatat 70 orang menjadi korban anarkisme FPI bahkan 7 orang harus mendapat perawat intensif. Tentunyan banyak pertanyaan yang muncul dalam benak kita, apa sebenarnya yang melatarbelakangi dari insiden tersebut?
Tentunya banyak argument dari FPI dalam usaha pembelaan diri, salah satu usaha pembelaan diri tertuang pada alasan utama penyerangan tersebut, bahwa FPI menganggap AKKBB memperjuangkan eksistensi Ahmadiyah di Indonesia. Ahmadiyah dianggap sesat dan benar-benar sudah menyimpang dari ajaran Islam. Misalkan alasan tersebut dapat diterima dan memang benar adanya, tentunya akan muncul pertanyaan lagi dalam benak kita, apakah penyelesaian dari kontroversi ini harus berujung pada suatu tindakan kekerasan dan anarkisme ?
Negara sudah menjamin kemerdekaan tiapa-tiap warga negara untuk memeluk agamanya masing-masing. Hal tersebut sudah tertera jelas dalam Undang- Undang Dasar 1945 pasal 29. Sebuah Perundangan tertinggi di Negara kita ini ternyata belumlah cukup untuk menjamin individu menjadi warga negara yang medeka dalam beragama. Pada hakikatnya, bergama adalah hubungan vertikal terhadap Tuhan, sangat private. Akan tetapi untuk menjamin kenyamanan dan keselamatan pemeluk agama menjalankan peribadatannya, Negara perlu ikut andil dalam hal ini. Tak ada satupun yang bisa memaksakan sebuah keyakinan. Dalam Islam sendiri sudah jelas tersurat dalam Al-qur'an tentang bagaiman memahami perbedaan dan bagaimana pula saling menghargai dalam beragama, tercantum dalam surat Al Kafirun yang salah satu ayat bermakna " Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku ". Jelas, tak ada sebuah bentuk pemaksaan dan kekerasan dalam Isalam untuk melaksanakan syariat-syariat Islam. Rasululloh sendiri tidak pernah berdakwah menyebarluaskan Islam dengan pedang, tapi beliau berdakwah dengan akhlak. Dimana dengan akhlak mulia beliau banyak orang yang masuk Islam.
Kembali pada peristiwa penyerangan di Monas, apel peringatan tersebut semata-mata memperingati hari Lahirnya Pancasila. Peringatan ini dilakukan demi memperkuat ikatan kebangsaan dan keindonesiaan yang semula dirajut oleh tokoh-tokoh kita dengan memimilh Pancasila sebagai Ideologi Negara.
Muncul pertanyaan, mengapa tidak memilih Ideologi Islam?
Bukankah para tokoh-tokoh kita adalah pemuka Islam yang sangat dikenal juga? Betapa bijaksananya tokoh-tokoh kita, mereka menyadari bahwa memimilh agama sebagai Ideologi Negara akan sangat problematik. Bicara soal agama berarti bicara soal tafsir, oleh karenanya sangat lekat akan keragaman pendapat; tidak pernah tungal. Hal inilah yang justru akan menjadi bom waktu bagi kita. Memang benar, perbedaan harusnya menjadi Rahmatan llil'alamin tentunya bagi orang yang berfikir tenang dan jernih. Tapi, ketika kita sudah tak mau berbagai pengertian tentang suatu bentuk keragaman, perbedaan tersebut akan menjadi sebuah senjata yang sangat mengerikan untuk memecah belah umat. Oleh karenanya, sangat problematik jika agama menjadi Ideologi di tengah pluralisme penganut kepercayaan.
Pancasila mengajarkan agar pemerintah bersikap netral dan adil terhadap semua penganut agama. Pemerintah tidak perlu mencampuri urusan substansi ajaran setiap agama dan kepercayaan. Pemerintah cukup menjamin agar setiap warga negara dapat mengekspresikan ajaran agama secara aman, nyaman dan bertanggung jawab. Pemerintah tidak berhak mengakui mana agama yang resmi dan tidak resmi atau agama yang diakui dan yang tidak diakui. Semua penganut agama memiliki posisi setara di hadapan hukum dan perundang-undangan. Tidak ada istilah mayoritas dan minoritas. Karena itu, sikap pemerintah membiarkan perilaku diskriminatif terhadap kelompok agama minoritas, seperti komunitas Ahmadiyah, Lia Eden dan kelompok lainnya jelas bertentangan dengan Pancasila walaupun tidak dapat dipungkiri ajaran-ajaran tersebut memang menyimpang dari Islam.
Pertanyaan terkhir adalah, sudah merdeka kah kita?
Senin, 29 Desember 2008
Langganan:
Komentar (Atom)

